Cerita

TIADA KESAN TANPA KEHADIRANNYA

Anugerah terindah bagi manusia adalah rasa cinta dan saling menyayangi. Sejak dari rahim ibunda, kita dirawat dengan penuh cinta, kasih sayang, walaupun belum tahu rupa kita seperti apa kelak. Sejak menikah dan memiliki anak, saya jadi memahami makna anugerah ini.

Cinta kepada pasangan bisa luntur, memudar, bahkan hilang. Namun cinta kepada anak senantiasa ada bahkan semakin bertambah. Sering kita merasa takut kehilangan, timbul perasaan cemas kepada buah hati, takut apabila dia terluka atau disakiti oleh orang lain.

Sejak Adam lahir, saya sangat bahagia. Melihat betapa besar kuasa Allah, dia lahir dengan sempurna, darah daging saya. Saya ingin terus bersamanya, menjaganya, mendampingi dengan sepenuh jiwa. Saat umurnya bertambah, rasa cinta juga makin meningkat. Semakin berusaha keras agar dia selalu tercukupi dan bisa tumbuh dengan nyaman. Seletih apapun saya saat kembali dari syuting atau urusan bisnis diluar kota, Adam senantiasa menjadi penyejuk jiwa. Sentuhan tangannya, tatapan matanya, pelukan hangatnya, menjadi pemicu semangat dalam hidup. Sekarang dia sudah semakin besar, semakin cerdas. Sudah mampu merespon setiap kejadian dengan baik. Senang tersenyum dan tertawa jika disapa, bisa marah atau cemberut jika ada yang tidak disukainya, bahkan juga bisa protes jika Abinya pulang larut atau merasa capek jika terlalu lama diajak bepergian.

Memahami anak seusia Adam juga tidak mudah. Harus memperbanyak sabar dan berlatih agar paham dengan bahasa atau gerak tubuh yang dia gunakan. Inilah pentingnya waktu produktif dengan anak, agar jiwa kita bisa saling menyatu. Bukan sekedar memperlihatkan ego orang tua saja. Jika sudah bisa memahami bahasa anak, kenyamanan akan tercipta. Malah anak akan menjadikan kita sebagai teman, tempat yang dia percaya.

Saya juga masih harus banyak belajar untuk menjadi orang tua yang ideal. Karena itulah, setiap waktu dengannya adalah proses belajar yang menyenangkan. Semoga kita senantiasa bisa menjaga anak ( anugerah ) ini dengan sebaik-baiknya. Karena kita adalah orang-orang terpilih yang diberi nikmat anugerah ini.

“Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Salam

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *