LOADING

Cerita Sehari-hari

Post image

Catatan Perjalanan Di Tanah Suci (Bagian 2)

Ada beberapa hal yang akan saya ceritakan tentang perjalanan saya di mekkah .


Ketika pertama kali sampai di kota suci Mekkah, kami langsung singgah ke Masjidil Haram karena rencananya kami akan langsung melaksanakan umrah. Kami segera berjalan masuk untuk melaksanakan langkah-langkah umrah , dan hal pertama yang kami lakukan adalah : Niat di Miqat

Miqat adalah tempat untuk melafazkan niat untuk umrah sebelum masuk ke Mekkah . Niat dilakukan hanya di miqat, tak bisa di tempat yang lain . Miqat in berjarak sekitar 9km dari kota Mekkah.

Setelah selesai melakukan niat , kami segera melanjutkan perjalanan untuk melakukan langkah selanjutnya : tawaf (mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali) .

Ketika berjalan, penglihatan saya langsung tertuju pada satu objek. saya dapat melihat ka’bah ! walaupun masih dari kejauhan namun dan terhalang oleh beberapa bangunan. Bersama yang lainnya, kami terus berjalan dengan semangat sambil mendekati ka’bah , beberapa bangunan yang menghalangi tak lagi mulai berkurang menutupi penglihatan utama saya, hingga akhirnya tak ada yang menghalangi dan saya dapat melihat ka’bah secara utuh di depan hadapan saya.
Saya merasa takjub melihat ka’bah yang memiliki banyak cerita dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW ketika beliau masih di Mekkah. Ucapan selamat datang ini lagi-lagi membuat saya kembali menangis kagum . Saya benar-benar dibuat terkesan dengan apa yang saya lihat dan saya rasakan pada saat itu.

Tangisan belum juga terhenti , bahkan makin menjadi ketika saya melakukan tawaf . Saya masih teringat semuanya . Saya tak bosan membayangkan bagaimana perjuangan Rasulullah pada saat itu .

Tawaf telah selesai dilaksanakan,Alhamdulillah kami pun melaksanakan sa’i . Sai ialah berjalan kaki dengan berlari-lari kecil bolak balik sebanyak 7 kali dari bukit Shafa ke bukit Marwah . Di sana para jama’ah pria disunatkan untuk berlari kecil sedangkan jama’ah wanita berjalan cepat . Sa’I dapat dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang sedang haid atau nifas.

Di sini, saya membayangkan bagaimana perjuangan Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail dan juga Istri Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk meninggalkan anak dan istrinya di lembah yang gersang dan sunyi bernama mekkah. Berangkat dari Syria, Nabi Ibrahim pun akhirnya membawa anak dan istrinya melewati padang pasir yang kering juga menyengat . Tak ada satupun pepohonan bahkan mata air sepanjang perjalanan .

Setelah memberitahu Siti Hajar tentang perintah Allah SWT tersebut , Siti Hajar terdiam . Namun karena kecintaan dan keyakinannya pada Allah SWT , Siti Hajar pun akhirnya berkata pada Nabi Ibrahim “Jika benar ini adalah perintah Allah SWT , tinggalkan kami di sini . Aku ridha ditinggalkan .”  Siti Hajar menggenggam tangan suaminya. Kemudian diciumnya, minta ridho atasa segala perbuatannya selama mereka bersama.
Tak sanggup menahan perih sebagai seorang suami dan ayah, Nabi Ibrahim pun berdoa “Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, yang demikian itu agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizqi dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,” (Q.S. Ibraahiim ayat 37)

Selesai berdo’a, tanpa menoleh ke arah isteri dan anaknya, Nabi Ibrahim terus meninggalkan tempat itu dengan menyerahkan mereka terus kepada Allah SWT. Tinggallah Siti Hajar bersama anaknya yang masih merah dalam pelukannya. Diiringi kepergian suaminya dengan linangan air mata dan syukur. Ditabahkan hati untuk menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.

Tidak lama selepas kepergian Nabi Ibrahim, perbekalan makanan dan minuman pun habis. Air susunya juga kering sama sekali.

Anaknya Ismail menangis kehausan. Siti Hajar kebingungan. Di mana hendak diusahakannya air di tengah padang pasir yang kering kerontang itu?

Ketika dia mencari-cari sumber air, dilihatnya dari jauh seperti ada air di seberang bukit. Dia berlari ke arah sumber air itu. Tetapi apa yang dilihatnya hanyalah fatamorgana.

Namun Siti Hajar tidak berputus asa. Dari tempat lain, dia melihat seolah-olah di tempat di mana anaknya diletakkan memancar sumber mata air.

Dia pun segera berlari ke arah anaknya. Tetapi sungguh malang, yang dilihatnya adalah fatamorgana. Tanpa disadari dia bolak-balik sebanyak tujuh kali antara dua bukit, Safa dan Marwa untuk mencari sumber air.

Tubuhnya keletihan berlari ke sana ke mari mencari sumber air, namun tiada tanda-tanda dia akan mendapat air. Sedangkan anak yang kehausan itu terus menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya ke bumi. Tiba-tiba dengan rahmat Allah SWT, sedang Siti Hajar mencari-cari air, terpancarlah air dari dalam bumi di ujung kaki anaknya Ismail.

Pada waktu itu gembiranya hati Siti Hajar bukan kepalang. Dia pun mengambil air itu dan terkeluar dari mulutnya, “Zam, zam, zam..” yang berarti, berkumpullah, berkumpullah. Seolah-olah dia berkata kepada air itu, “Berkumpullah untuk anakku.”

 

SubhanAllah , saya membayangkan perbandingan antara saya dan Siti Hajar . Di ruangan yang kini ber-AC dan berlantai ubin, tapi ketika saya berjalan rasanya benar-benar pegal . Tak ada apa-apanya jika dibanding dengan beratnya perjuangan Siti Hajar pada saat itu , matahari yang terik , jalan yang berbatu . Pastinya perjalanan beliau tak semudah yang kami , jama’ah umrah lakukan sewaktu sa’i.

Setelah melakukan sa’i, kami pun melaksanakan langkah terakhir dalam pelakasanaan umrah  yaitu tahallul . Tahallul sendiri adalah memotong sebagian atau seluruh rambut .Tahallul memiliki arti “menjadi halal” atau “menjadi boleh”, karena beberapa hal yang haram dilakukan saat ihram menjadi batal . Ada dua cara dalam melaksanakan tahallul : Yang pertama ialah halq , yaitu memotong habis rambut , dan yang kedua ialah taqsir , yaitu hanya memotong sebagian rambut . Saya memilih untuk hanya memotong sebagian rambut saya . Saya hanya memotong lima helai rambut saja –tidak sampai botak seperti yang lain- Karena untuk urusan pekerjaan . Pada saat itu tidak terlalu lama melaksanakan tahallul.

Alhamdulillah , pelaksanaan umrah pun akhirnya selesai . Kami pun beristirahat di sebuah hotel yang lokasinya tak terlalu jauh dari masjidil haram. Begitu banyak cerita yang sangat berarti untuk saya pada hari itu .

-bersambung