LOADING

Cerita Sehari-hari

Post image

TERIMA KASIH RAJA SALMAN (BAG.2)

Sabtu, 3 September 2016, jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta Pusat ramai dipenuhi oleh orang lalu lalang dan mobil berjejer. Hari itu adalah keberangkatan 60 jamaah haji Indonesia tamu raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al Saud.

Para tamu undangan ini berkumpul di rumah Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia yang kala itu baru diangkat menggantikan Mustafa Ibrahim Al Mubarak, yaitu Usamah Al Shuibi. Di rumah ini calon jamaah haji dilepas secara resmi, kemudian langsung menuju Bandara Soekarno Hatta untuk bertolak ke tanah suci, tanpa ada karantina di asrama haji terlebih dahulu.

Di tanah suci, kami betul-betul disambut dan dilayani dengan baik. Tamu undangan haji raja dikumpulkan dalam sebuah hotel yang mewah. Tempat ke Masjidil Haram tak terlalu dekat, tetapi panitia menyediakan bus untuk antar jemput jamaah yang ingin ke masjid.

Satu hal yang menarik dan selalu ku rindukan. Di tanah suci, orang berbondong-bondong melakukan ibadah dan bermunajat kepada Allah. Masjid yang selalu sesak, derai tangis dan air mata yang bercucuran saat memanjatkan doa kerap ditemui. Ketika adzan berkumandang, segala aktivitas yang dilakukan segera dihentikan. Semuanya bergegas menuju panggilan Allah: ambil air wudhu dan menuju ke masjid. Para penjaga toko dan peziarah  yang berada di sekitar Haram, langsung membuat garis pembatas untuk sholat, siap-siap ikut makmum dengan imam yang ada didalam masjid, menyambungkan shaf dari masjid.

Disana, ada kebiasaan yang sangat bagus dan patut dicontoh. Penduduk yang jaraknya jauh dari Masjidil Haram, pun ketika adzan berkumandang, lekas menghentikan aktivitasnya. Bahkan, seseorang yang memesan makanan di restoran harus menunda keinginannya, karena pegawai dan pengunjung mesti menunaikan sholat terlebih dahulu. Menggelar kain dan sajadah, sholat berjamaah di dalam restoran tersebut.

Kota Nabi yang Indah

Usai melakukan ritual ibadah haji, kami serombongan bergegas menuju kota Nabi, Madinah Al Munawwaroh, dengan menggunakan bus. Seluruh tamu Raja Salman dari berbagai negara menuju kesana.

Ya. Madinah. Kota yang selalu kurindu. Hati ini betul-betul terpaut dengan kota itu. Sehingga anak saya yang kedua sengaja kuberi nama dengan Cut Hawa Medina Al Fatih. Nama itu disematkan kepada anak saya, karena saya mencintai kota itu. Betapa tidak, ia adalah kota tempat Nabi hijrah, tempat Nabi dakwah dan menegakkan agama ini.

Di Madinah, kami serombongan tidak lama. Panitia memberikan waktu hanya sehari semalam. Kemudian kami langsung bertolak ke tanah air. Meskipun sebentar, momen itu tak pernah terlupakan karena banyak pelajaran berharga dan momen yang tidak biasa.

Di Kota Nabi, saya bertemu dengan mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh jenjang pendidikan S3, Ustadz Musyaffa Ad Dariny. Banyak faedah yang didapat dari perbincangan dengan beliau.

Ustadz Ad Dariny, demikian biasa saya menyapanya, mengajak saya untuk menyaksikan penguburan jenazah di Madinah. Ajakan Ustadz Ad Dariny sangat menarik sekali, mengingat selama ini saya hanya mengetahui proses penguburan jenazah di Indonesia. Usai sholat Isya, seperti biasa, ada pengumuman sholat jenazah dan imam memimpin sholat. Setelah salam, saya, Ustadz Ad Dariny dan empat kawan lainnya bergegas menuju ke pintu kuburan baqi’ yang lokasinya tak jauh dari Masjid Nabawi.

Disana, saya menyaksikan jenazah diangkat dengan keranda tanpa penutup. Para pengiringnya berjalan cepat menuju kuburan. Semuanya laki-laki. Baqi’, sebuah komplek pemakaman para sahabat nabi dan kini bisa digunakan oleh penduduk Madinah. Tak ada bangunan megah dan tak ada kubah yang menghiasi makam-makam.

Proses penguburan berjalan sangat cepat, sekitar menghabiskan waktu 10 menit. Tak ada orang yang berbicara apalagi tertawa. Hanya kami berenam yang sesekali mengobrol pelan, ada diantara yang tertawa kecil. Seketika datang seorang pria paruh baya dengan bahasa Arab mengatakan, “Saudaraku, ini adalah kuburan, tempat sebagai peringatan dan pengingat kematian. Tak pantas untuk berkata-kata yang tidak penting, apalagi tertawa…” Saya mengetahui arti dari ucapan bapak tadi setelah diterjemahkan pelan oleh Ustadz Ad Dariny. Astaghfirullaah, saya membatin.

Selesai penguburan jenazah, sambil menuju keluar area kuburan, orang-orang menghampiri keluarga mayyit dengan menyampaikan doa satu-satu dan memeluknya. Ustadz Ad Dariny yang sedari tadi mendampingi kami mengatakan, “Demikianlah ajaran Islam. Ini yang dinamakan ta’ziyah, yaitu mendoakan keluarga yang ditinggal semoga diberi kesabaran dan ketetapan hati.”

Ustadz Ad Dariny juga menegaskan bahwa proses penguburan dalam Islam itu simple dan mudah. Tidak ada ritual-ritual khusus. Bentuk kuburanpun tidak diperbolehkan menjulang tinggi dan megah. Ia hanya berbentuk gundukan tanah dan sebagai tandanya diberi batu nisan dengan bentuk bulat, tanpa warna dan tulisan apapun. Kuburan orang kaya, miskin, tokoh dan orang biasa sama saja. Ustadz Ad Diriny menyebutkan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ini.

Singgah di kota Nabi dengan singkat, tetapi banyak mendapat pelajaran dan cukup mengobati rindu. Esok harinya, kami harus kembali ke bandara untuk bertolak ke tanah air.

Dua pekan berada di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, tepat tanggal 17 September 2016, kami tiba di bandara Soekarno-Hatta. Pertemuan yang sangat singkat namun indah. Rukun Islam yang kelima telah kusempurnakan. Semoga Allah menerima amalan kami. Juga, semoga bisa kembali berkunjung ke tanah suci.

Puji syukur kupanjatkan kepada-Mu ya Allah.

Terima kasih Raja Salman.