LOADING

Cerita Sehari-hari

Post image

TERIMA KASIH RAJA SALMAN (BAG.1)

Haji adalah rukun Islam kelima. Setiap muslim wajib untuk menjalankannya, bagi yang mampu untuk melakukan perjalanan ke Baitullah Al Haram. Dijelaskan didalam hadits riwayat Bukhari, balasan bagi haji yang mabrur adalah surga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Haji yang mabrur,  tak ada balasan baginya kecuali surga."

Di negeri ini, orang tak mudah untuk menunaikan ibadah haji. Seandainya dana tersedia, memiliki tenaga dan mahram (bagi perempuan) ada, tak bisa langsung berangkat haji tahun ini juga, karena antrian yang sangat panjang. Di beberapa kota, seperti Aceh dan Makassar, jika daftar tahun ini maka akan berangkat 20-25 tahun yang akan datang.

Rizki itu Datang tak Diduga

Suatu ketika saya ditanya oleh seorang ustadz, “Apakah sudah pernah menunaikan ibadah haji?.” Beliau bertanya demikian karena mendapat amanah dari petugas kedutaan Saudi di Jakarta untuk menanyakannya kepada saya. Saya jawab “belum.” Ternyata saya mendapatkan undangan haji.

Saya adalah salah satu orang yang sangat beruntung, karena mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah haji tanpa antrian, juga tanpa biaya, semuanya ada yang menanggung. Rizki memang kadang datang tak terduga.

Setelah menyerahkan passpor dan persyaratan,  saya bertolak ke tanah suci pada Sabtu, 3 September 2016. Berangkat bersama satu rombongan dari rumah Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia,  Usamah Al Shuaibi di Jalan Teuku Umar Menteng, Jakarta Pusat. Saya dan rombongan diantar menggunakan bus, dikawal oleh petugas kepolisian. Saya berangkat bersama dengan rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Muhammad Anis, Dirjen Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan HAM I Wayan Kusmiantha Dusak dan para pejabat negara lainnya, mantan raja joged yang kini rajin belajar agama, Caisar Aditya Putra, pemenang lomba hafalan Alquran dan Hadits tingkat Asia Pasifik,  jurnalis dan lain-lain. Rombongan ini berjumlah 60 orang. Semua pembiayaannya, mulai ongkos pesawat, hotel,  transportasi dan lainnya ditanggung oleh panitia.

Kami serombongan menumpang pesawat milik pemerintah Saudi: Saudi Arabia Airlines dan landing Jeddah. Kami mengenakan kain ihram saat masih di dalam pesawat,  tepatnya ketika memasuki daerah Yalamlam. Setelah sampai di Bandara Jeddah,  kami serombongan dijemput oleh panitia setempatkemudian  menuju hotel di Mekkah.

Setelah sampai di hotel, ternyata undangan haji pemerintah Saudi ini bukan hanya dari Indonesia saja,  tetapi dari seluruh dunia. Jumlah semuanya 2450, undangan terbanyak dari Palestina, panitia menyebut ada 1000 orang.

Melihat jumlah yang banyak ini,  saya tercengang. Berapa milyar yang yang dikeluarkan oleh pemerintah Saudi untuk membiayai tamu sebanyak ini?.

Pelayanan yang diberikan oleh panitia sangat luar biasa. Kami ditempatkan di hotel yang mewah, selain itu makanan dan kesehatan juga dijamin. Panitia sangat memperhatikan para tamu undangan.

Saat wukuf di Arafah, tenda yang di sediakan oleh panitia sangat besar dan udara yang dingin dari AC. Kesan Padang Arafah yang tandus dan gersang juga hilang di pikiran karena panitia menempatkan kami khusus di tempat yang dipenuhi dengan pepohonan, rumput-rumput, pepohonan dan air mancur.

Ketika mabit di Mina,  tenda yang di sediakan panitia sangat dekat dengan tempat lempar jumrah. Jarak tenda dengan jamarat sekitar 200 meter. Tidak seperti jamaah reguler yang harus jalan kaki hingga 3-4 km.

Usai melakukan proses ritual ibadah haji, kami mengambil nafar awal,  sehingga segera bergegas kembali ke hotel dan melakukan thowaf ifadhah kemudian dilanjut dengan thowaf wada',  karena panitia membawa kami segera menuju ke Madinah. Di Madinah,  kami serombongan di tempatkan di hotel yang cukup nyaman, juga sangat dekat dengan masjid Nabawi.

Subhanallah.Kalau mengingat nikmat ini, saya betul-betul merasa sangat beruntung.

Terima kasih pemerintah Saudi. Terima kasih Raja Salman.