LOADING

Cerita Sehari-hari

Post image

YUK, AJAK ANAK KE MASJID!

Mengajarkan anak untuk ibadah sebaiknya dilakukan sejak dini. Ketika dewasa nanti,  ia akan mengerti dan terbiasa terhadap kewajibannya kepada Allah Ta'ala. Dalam hadits di jelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam, "Perintahkan anak kalian untuk melakukan sholat pada usia 7 tahun dan pukullah ketika ia tidak mau sholat, saat memasuki usia 10 tahun."

Hadits ini banyak sekali mengandung hikmah. Betapa nabi mengajarkan kepada umatnya agar memperhatikan anak-anak,  sebagai generasi penerus, untuk mengenal agamanya.

Usia 7 tahun,  anak sudah mumayyiz,  yaitu mengerti dan bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh. Usia saat itu,  anak paham dengan larangan dan teguran dari orang tuanya.

Adapun ketika memasuki usia 10 tahun,  pikiran anak sudah lebih berkembang,  ia beranjak remaja sehingga lebih matang secara psikologis dibanding saat usia 7 tahun. Maka, saat usia ini, jika anak menolak untuk sholat,  boleh dipukul.

Koq Boleh Dipukul?..

Iya. Para ulama menjelaskan, pukulan yang diberikan kepada anak ini  bukanlah sebagai wujud kemarahan dan kebencian, tetapi karena kasih sayang. Maka lakukan pukulan dengan yang tidak membahayakan,  dan pukul dengan pukulan yang ringan,  serta pilihlah daerah tubuh yang tidak berbahaya.

Pukulan tidak akan terjadi jika anak tidak menolak untuk sholat. Maka untuk menghindari kejadian tersebut,  berikanlah pengertian kepada anak, kenalilah ia kepada Islam semenjak kecil,  bahkan sebelum berusia 7 tahun. 

Pembiasaan adalah didikan yang sangat efektif kepada anak. Ia akan mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia akan mengerti bahwa seorang muslim,  harus sholat 5 waktu. Ia akan paham bahwa laki-laki itu sholat berjamaah di masjid.

Tak mengapa membawa anak ke masjid. Ajak ia untuk sholat bersama. Jadikan masjid adalah tempat yang nyaman bagi anak. Hanya, sering terjadi anak tak bisa dikendalikan, membuat gaduh masjid sehingga jamaah merasa terganggu. Bukannya kenyamanan yang didapat,  tetapi malah seperti merubah masjid menjadi taman bermain bagi anak-anak, yang penuh jeritan,  tawa dan derap langkah kaki anak ketika Jamaah sedang beribadah.

Dalam hal ini para ulama berfatwa,  tidak boleh membawa anak jika membuat gaduh masjid, sehingga jamaah terganggu. Tetapi, jika tidak mengganggu maka tidak mengapa,  apalagi ada beberapa riwayat yang menyebutkan cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dibawa ke masjid,  ikut sholat bersama beliau dan bahkan menduduki kepala beliau ketika sedang sujud.

Dalam barisan sholat, anak terus dijaga, tempatkan berdiri disamping orang tuanya. Jika ia masih kecil,  sesekali boleh digendong jika memang diperlukan. Hal ini pernah terjadi di zaman Nabi. Dan ini yang saya lakukan terhadap Adam,  putra pertama saya.

Sesekali saya ajak Adam ke masjid untuk sholat dan menghadiri pengajian. Usianya belum genap 3 tahun,  tapi sudah saya biasakan untuk mengenal masjid, mengerti sholat,  pengajian dan ibadah lainnya.

Saya teringat dengan hadits Nabi yang menyebutkan bahwa di hari akhir nanti ada 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah,  diantaranya adalah orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Ia sangat rindu dengan masjid. Tentu saya dan kita semua menginginkan mendapatkan kenikmatan itu.

Adam biasanya ikut karena memang dekat sekali dengan saya. Maminya yang gendong Hawa dan kadang sibuk di rumah, Adam berlari dan tahu abinya ini mau ke masjid.

Bukan hanya untuk sholat, menghadiri pengajian pun saya sesekali ajak Adam. Dia duduk di samping. Bahkan ketika saya menjadi pembawa acara pengajian,  Adam ikut ke depan, duduk dipangkuan. 

Alhamdulillah,  Adam selama ini tidak membuat kegaduhan di dalam masjid. Tidak mengganggu jamaah yang lain. Saya terus dampingi di sisinya, atau sering juga Adam dijaga oleh kakeknya,  yang memang sering hadir ke masjid.

Saya ingin, kelak Adam menjadi orang yang mencintai masjid, hatinya terpaut dengannya, rajin sholat,  ibadah,  hadir ke pengajian dan amal baik lainnya.

Yuk, ajak anak-anak kita ke masjid!.